TADZKIROH
Home » Artikel Terbaru » HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN WANITA DI BULAN RAMADHAN
HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN WANITA  DI BULAN RAMADHAN

HUKUM-HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN WANITA DI BULAN RAMADHAN

1. Yang Berkaitan dengan Puasa
Bagi seorang perempuan, kewajibannya untuk melaksanakan puasa Ramadhan, sebagaimana halnya seorang laki-laki, adalah ketika telah mencapai masa baligh, yang di masa ini tidak ditentukan oleh usia semata, melainkan oleh beberapa faktor:
 Haidh, yaitu keluarnya darah kotor dari kemaluannya. Bila seorang anak perempuan telah mengalami haidh, meskipun baru berumur 10 tahun, maka telah wajib baginya untuk berpuasa Ramadhan.
 Tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan.
 Umur 15 tahun sebagai batas maksimal seorang anak digolongkan telah baligh jika dua tanda baligh di atas belum muncul. Berarti seorang anak yang telah berusia 15 tahun, walaupun belum haidh dan belum tumbuh bulu di sekitar kemaluannya, dia telah wajib untuk berpuasa Ramadhan.
2. Wanita yang Terkena Pengecualian dari Kewajiiban Puasa Ramadhan
Pertama , wanita haidh dan nifas.
أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا
“Bukankah juga seorang wanita mengalami haidh, dia tidak shalat dan tidak berpuasa. Itulah (bentuk) kurangnya dien ‘agama’nya.” (HR Bukhary-Muslim ).
Wajib bagi wanita tersebut untuk meng-qadha` ‘mengganti’ puasa yang ditinggalkannya di bulan Ramadhan pada hari-hari yang lain, tetapi tidak perlu meng-qadha` shalatnya. Ketika Aisyah ditanya, “Kenapa wanita yang haidh meng-qadha` puasanya dan tidak meng-qadha` shalatnya?” Beliau menjawab,
كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ
“Kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Seorang wanita yang haidh mulai berhenti berpuasa sejak keluarnya darah haidh dan sejak itu pula puasanya batal dan tidak boleh diteruskan, meskipun tersisa beberapa saat waktunya dari waktu tenggelamnya matahari (berbuka puasa).
Jika haidhnya sudah selesai, dia mulai berpuasa dengan ketentuan:
 Kalau haidhnya berhenti sebelum terbitnya fajar (bukan matahari), dia berniat untuk berpuasa lalu mulai berpuasa, meskipun dia belum sempat mandi bersih sampai terbitnya fajar dan sejak itu puasanya terhitung, (Al-Haafizh Ibnu Hajar Fathul Baary 4/192).
 Jika berhentinya haidh pada pertengahan hari puasa, yang harus dilakukan adalah menahan diri dari yang membatalkan puasa sejak waktu berhentinya haidhnya sampai terbenamnya matahari, yang hal ini dilakukan dalam rangka pemuliaan dan penghargaannya terhadap waktu (hari puasa), kemudian dia wajib meng-qadha’ puasanya untuk hari itu.
Tidak dianjurkan bagi wanita untuk mengkonsumsi obat-obatan pencegah dan penahan haidh, sebab haidh adalah sesuatu yang Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah tetapkan bagi wanita, Akan tetapi, jika ada yang melakukannya dan obat tersebut tidak membahayakan kesehatannya serta dapat benar-benar menghentikan darah haidhnya, puasanya sah dan tidak perlu meng-qadha`-nya, Berkata Syaikh Shaalih Al-Fauzaan, “Diperbolehkan bagi wanita untuk mengonsumsi tablet yang bisa menghalangi haidh agar dia bisa berpuasa (lengkap) jika tablet (obat-obat) ini tidak membahayakan kesehatannya.” ( Al-Muntaqaa Min Fataawaa Fadhîlah Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzaan 3/148).
Beberapa hal yang berkaitan dengan haidh dan nifas sehubungan dengan puasa Ramadhan di antaranya:
Wanita yang haidhnya yang telah lengkap (cukup bilangan hari haidhnya menurut kebiasaannya) diwajibkan mandi dan berpuasa. Jika kemudian dia melihat sesuatu dari farji ‘ kemaluan’nya, hal ini tidak menghalanginya untuk terus melaksanakan shalat dan puasa berdasarkan perkataan Ummu ‘Athiyah :
كُنَّا لاَ نَعُدُّ الصُفْرَةَ وَالْكُدْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا
“Kami tidak menganggap kekuningan dan keputihan setelah suci sama sekali”. (HR Bukhary dan Abu Daud).
Jika darah haidhnya berhenti sebelum hari-hari kebiasaan haidhnya cukup, kemudian dia mandi, melaksanakan shalat dan puasa, lalu setelah itu dia kembali melihat darah dari kemaluannya, maka darah itu dianggap darah haidh dan dia masih dalam keadaan haidh sampai selesai masanya, dan puasa yang telah dilakukannya, dalam selang waktu antara berhentinya darah yang pertama dengan keluarnya darah untuk kedua kalinya, tidak diperhitungkan dan dia harus meng-qadha` nya.
Demikian pula halnya, jika waktu nifasnya telah genap 40 hari, kemudian dia mandi lalu setelah itu ada lagi darah yang keluar setelah lewat 40 hari tadi, hal ini tidaklah berpengaruh dan tidak dianggap lagi sebagai darah nifas dan sudah boleh melaksanakan shalat dan puasa, kecuali kalau selesainya waktu nifas bersambung dengan waktu haidhnya.
Jika belum genap 40 hari darahnya terhenti, sehingga dia mandi, melaksanakan shalat dan puasa, lalu tidak ada lagi darah setelah itu, berarti masa nifasnya tidak genap 40 hari dan hal ini mungkin saja terjadi.
Jika ada lagi darah yang keluar setelah mandi, melaksanakan shalat dan puasa, dia harus segera menghentikan shalat dan puasanya dan ia dianggap masih dalam keadaan nifas.
Bagaimana dengan darah yang keluar dari seorang wanita setelah keguguran (secara sengaja ataupun tidak), apakah juga mengharuskan dia untuk berbuka (tidak berpuasa)? Jawabannya, jika janin yang keluar dari kandungan itu sudah berusia 4 bulan atau sudah bisa dibedakan anggota-anggota tubuhnya seperti kaki, lengan dan kepalanya, wanita yang keguguran tersebut dianggap mengalami nifas dan padanya berlaku hukum wanita nifas, tidak boleh melaksanakan shalat dan puasa. Tetapi jika janinnya kurang dari 40 hari dan anggota-anggota tubuhnya masih belum berbentuk, maka dia tidaklah dianggap nifas.
Kedua, wanita hamil dan menyusui.
Wanita hamil dan menyusui mendapatkan rukhsah (keringanan) berupa bolehnya berbuka di bulan Ramadhan.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنِ الْحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ
“Sesungguhnya Allah Ta’aala meletakkan puasa dan seperdua shalat dari seorang musafir dan (meletakkan) puasa dari wanita yang hamil atau menyusui.” (HR At-Tirmidzy, Abu Daud,dan Ibnu Maajah).
Tidak ada khilaaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama tentang bolehnya wanita menyusui dan hamil untuk berbuka jika mengkhawatirkan diri, janin, atau anaknya.
Jika wanita hamil atau menyusui berbuka pada bulan Ramadhan karena mengkhawatirkan diri dan atau anaknya, wajib baginya untuk membayar fidyah berupa memberi makan satu orang miskin setiap harinya, dan tidak meng-qadha` puasanya, jika ia meng-qadha` puasanya dan sanggup untuk itu, dia boleh meng-qadha`nya dan tidak usah membayar fidyah.
3. Peringatan/Catatan Penting Tentang Wanita Mustahaadhah
Wanita yang mengalami istihaadhah adalah wanita yang kedatangan darah yang tidak bisa digolongkan darah haidh. Wanita yang mengalami istihaadhah ini wajib untuk melaksanakan puasa dan tidak boleh baginya meninggalkannya (berbuka) karena sebab darah istihaadhah.
4. Hal-Hal Lain yang Berkaitan dengan Wanita yang Sedang Berpuasa
Dibolehkan bagi wanita yang berpuasa mencicipi makanan untuk mengetahui rasa dan suhu makanan yang disuapkan pada bayinya, selama makanan tersebut tidak masuk ke dalam kerongkongannya (ditelan).
Berkata Ibnu ‘Abbaas, “Tidak mengapa baginya untuk mencicipi cuka atau sesuatu (makanan) selama tidak masuk kedalam kerongkongannya, meskipun dia dalam keadaan berpuasa.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhary ( Fathul Baary 4/154).
Wanita yang sedang berpuasa diperbolehkan mencium atau untuk dicium oleh suaminya, jika keduanya yakin dapat menguasai diri untuk tidak sampai melakukan jimaa’ (hubungan intim).
Dari ‘Aisyah ia berkata, “Adalah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam mencium istrinya dalam keadaan berpuasa dan menyentuh (tanpa hubungan intim) dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menguasai diri (hajat)nya.” (HR Bukhary dan Muslim).
Berkata Syaikh ‘Abdullah Al-Bassaam, “Berkata penulis Al-Iqna’ (Ibnu Muflih Al-Hambaly), ‘ Makruh hukumnya mencium karena syahwat semata, dan jika dia memperkirakan (menduga) akan keluarnya mani, maka mencium diharamkan atasnya tanpa ada khilaaf (perbedaan pendapat di kalangan ulama).’.”
5. Yang Berkaitan dengan Shalat Tarawih (Qiyaamu Ramadhaan)
Shalat tarawih secara berjamaah telah disyariatkan di dalam ajaran agama Islam, meliputi laki-laki maupun wanita, dan disyariatkan pula bagi wanita untuk menghadiri shalat jamaah berdasarkan hadits Abu Dzar,
“Kami telah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam dan beliau tidak shalat mengimami kami sedikit pun sejak awal bulan, hingga tersisa tujuh hari (dari bulan Ramadhan), beliau shalat mengimami kami (pada shalat lail/tarawih) sampai melewati sepertiga malam, ketika malam ke-6 dari akhir Ramadhan beliau tidak shalat bersama kami, ketika malam ke-5 beliau mengimami kami sampai lewat pertengahan malam. Maka saya (Abu Dzar) berkata, ‘ Wahai Rasulullah, seandainya engkau menjadikan shalat (tarawih) pada malam ini sebagai naafilah (sunnah),’ maka Rasulullah bersabda, ‘ Sesungguhnya seseorang, jika dia shalat bersama Imam sampai dia (Imam itu) selesai telah dituliskan baginya qiyaam (shalat) sepanjang malam itu.’ Maka ketika tersisa 4 malam beliau tidak shalat (bersama kami) dan ketika tersisa 3 malam beliau mengumpulkan anggota keluarganya , istri-istrinya dan orang-orang, maka shalatlah Nabi mengimami kami sampai-sampai kami takut tidak mendapati (melewatkan) Al-Falah. Berkata seseorang, ‘ Apa itu Al-Falah?’ Saya (Abu Dzar) menjawab, ‘ As-Sahur (makan sahur).’ Kemudian beliau tidak (keluar lagi) shalat mengimami kami pada hari-hari yang sisa dari bulan Ramadhan.”
Syaahid (sisi pendalilan) dari hadits ini adalah ketika Nabi shallallaahu ‘ alaihi wa aalihi wa sallam mengumpulkan istri-istri dan keluarganya untuk shalat lail.

(ABDI)

Scroll To Top